Slider Widget

Responsive Ad

Belajar Sejarah Benda Bernilai Seni Tinggi di Museum Seni Rupa dan Keramik Jakarta oleh - tempatwisatadibandung.online

Halo sahabat selamat datang di website tempatwisatadibandung.online, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar Belajar Sejarah Benda Bernilai Seni Tinggi di Museum Seni Rupa dan Keramik Jakarta, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

Perjalanan saya di Kota Tua Jakarta telah tiba di Museum Seni dan Keramik. Museum ini berada tak jauh dari Museum Fatahillah dan berada di sisi timur dari Lapangan Kota Tua. Bagunan bergaya neo klasik tampak cantik di depan mata yang membuat saya penasaran ada apa saja di dalam sana. Bangunan bercat putih tersebut berdiri megah dan menjadi spot berfoto pertama para pelancong yang sedang mengunjunginya.

Bangunan ini bagian atasnya berbentuk segitiga yang menggambarkan mahkota raja dan terdapat pilar sebanyak 14 buah. Pilar-pilar ini merupakan penggambaran dari pasukan tentara yang mendukung kekuatan dan kokohnya kerajaan. Belum apa-apa saya sudah takjub.

Dengan membeli tiket seharga 5.000 rupiah, saya pun masuk bersama seorang rekan. Di bagian pertama, saya menemukan berbagai koleksi lukisan yang disusun berdasarkan periodisasinya. Mulai masa Mooi Indie (1908-1936), masa Persatuan Ahli Gambar Indonesia (1936), Masa Revolusi (1945), dan Masa Lahirnya Akademi (1950an). Tiap masa tersebut memiliki ciri khas tersendiri. Tetapi, lukisan paling tua adalah lukisan Bupati Cianjur karya R. Saleh Syarif Bustaman.

Lukisan karya Maestro Affandi
Lukisan karya Maestro Affandi

Pada ruangan pertama, saya menemukan sebuah tangga ulir yang yang sangat artistik. Selain itu, ada pula koleksi patung dari Bali, totem kayu magik dan simbolis karya I Wayan Tjokot, dan beberapa patung lainnya. Beberapa patung benar-benar membuat saya takjub karena memiliko detail ukiran yang sangat apik.

Selain lukisan dan patung, pada museum ini juga terdapat koleksi tembikar dan keramik. Tembikar merupakan benda-benda yang dibuat dari tanah liat dan dibakar dengan suhu antara 350 hingga 700 derajat Celcius. Tembikar yang disimpan di museum ini ada yang berasal dari nusantara dan ada pula yang berasal dari luar negeri.

Koleksi tembikar tertua berasal pada masa Kerajaan Majapahit yang dibuat sekitar abad ke-14 Masehi. Ada yang berupa kendi, celengan, patung, relief, dan beberapa unsur bangunan suci yang terdapat dalam sebuah candi.

Koleksi tembikar yang tidak kalah menarik adalah tembikar yang berasal dari Banten. Tembikar ini banyak dipengaruhi unsur budaya Arab dan India karena dibuat pada masa kerajaan islam. Beberapa benda yang merupakan tembikar dari Kerajaan Banten adalah pasu, periuk, dan jambangan.

Koleksi tembikar dan keramik
Koleksi tembikar dan keramik

Koleksi keramik juga menjadi koleksi yang sayang untuk dilewatkan. Perbedaan antara tembikar dan keramik adalah pada suhu pembuatannya. Keramik dibuat dengan suhu yang lebih tinggi, yakni antara 1.150-1.300 derajat celcius. Jika tembikar yang disimpan banyak dari Nusantara, maka koleksi keramik di museum ini banyak yang berasal dari mancanegara.

Koleksi keramik tertua berasal dari Dinasti Tang sekitar tahun 618-969 M. Wah saya sangat takjub dengan detail motif bunga yang terdapat pada keramik tersebut. Dengan masa pembuatan yang cukup kuno, hasil yang dihasilkan benar-benar menawan. Dari daratan Tiongkok, koleksi keramik yang menarik perhatian adalah keramik Dinasti Song dan Dinasti Qing. Selain dalam bentuk guci, banyak keramik tersebut dibuat dalam bentuk piring. Sayangnya, beberapa di antaranya sudah pecah.

Tangga ulir yang eksotik
Tangga ulir yang eksotik

Tidak hanya berasal dari Tiongkok, koleksi keramik yang ada juga berasal dari Jepang, Thailand, dan Eropa. Dari Jepang, keramik bergambar samurai adalah keramik favorit saya. Perpaduan warna merah dan hitam serta warna lainnya membuat keramik tersebut seakan hidup.

Dari dalam negeri sendiri, keramik yang tersimpan di museum ini adalah keramik dari Bali, Bandung, dan Dinoyo Malang. Namun, keramik tersebut bukanlah keramik kuno melainkan keramik modern. Daerah-daerah tersebut juga dikenal sebagai daerah penghasil keramik.

Selain memiliki ruang pameran, di museum ini juga terdapat perpusatakaan serta taman. Ada juga souvenir shop yang menjual beberapa cenderamata. Buka dari hari Selasa sampai Minggu, museum ini sangat direkomendasikan untuk dikunjungi sebagai sarana belajar benda bernilai seni tinggi dan bernilai sejarah.

Itulah tadi informasi mengenai Belajar Sejarah Benda Bernilai Seni Tinggi di Museum Seni Rupa dan Keramik Jakarta dan sekianlah artikel dari kami tempatwisatadibandung.online, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.

Posting Komentar

0 Komentar